Tahun Baru Islam 1442 H, Renungan Kita Bersama

Tahun baru Islam pada tahun ini kita sedang diuji. Walau ditengah pandemi tak menyurutkan hamasah menyambut suka cita datangnya bulan pertama pada penanggalan kalender Hijriyah tersebut. Iya, benar sekali bulan Muharram, namanya. Bulan yang diambil awal perhitungan kalender Hijriyah yang didalamnya ada peristiwa hijrah Nabi. Hijarah dari kota Makkah menuju ke kota Madinah.

Di negeri kita ini, tahun-tahun sebelumnya, umat Islam biasanya mengadakan peringatan tahun baru Hijriyah di masjid-masjid, di lapangan terbuka sekalipun, tak ada kendala yang berarti. Tak ketinggalan pula di lingkungan sekolah ikut menyambut tahun baru Islam dengan kegiatan-kegiatan yang mengandung syiar Islam. Ada tabligh akbar, hadroh, nasyid, bahkan sampai pawai. 

tim hadroh smkn1 bandar lampung

Ada rasa kebanggaan tersendiri bahwa kegiatan syiar di sekolah turut serta anak-anak yang berusia belia. Jadinya berasa semangat muda melihat gelora anak-anak walau umur sudah tak lagi muda. Mereka tergabung dalam kegiatan kerohanian Islam di sekolah sehingga tumbuh kesadaran untuk mensyiarkan agama Islam. Selain peringatan tahun baru Islam, ada maulid Nabi, Isra' Mi'raj, pesantren kilat Ramadhan yang dikemas dalam rangka PHBI (Peringatan Hari Besar Islam). Tentunya, saya bahagia telah membimbing mereka sehingga kelak mereka menjadi generasi muslim yang shalih dan shalihah. Menjadi pionir pemimpin masa depan yang berkarakter akhlak mulia.

maulid nabi smkn 1 bandar lampung

Inilah yang saya coba tanamkan kepada generasi muslim milenial zaman sekarang. Agar mereka meyakini pergantian tahun Hijriyah itu bukan hari raya tapi ini adalah momen yang mengandung syiar Allah SWT yang sebagai seorang muslim hendaknya menghormati dan mengagungkannya. 

Semangat dalam syiar Islam sesuai surah al-Hajj ayat 32

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Artinya."Barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu tumbuh dari ketaqwaan hati (seorang hamba)".

Dalam kondisi kenormalan baru ini, lantas apa yang bisa kita perbuat untuk mensyiarkan kembali semangat tahun baru Islam?. Sebab peringatan tahun baru Islam kali ini tentu berbeda lantaran pandemi belum berakhir. Maka yang bisa kita lakukan mulailah dari hal terkecil kita bisa membagikan sesuatu yang berfaedah. Misalnya upload di story Instagram, Facebook, WhatsApp, ngetweet di Twitter tentang doa akhir tahun – doa awal tahun. Pokoknya di semua akun medsos yang kalian punya boomingkan semarak tahun baru Islam ini sebagai momen muhasabah pendekatan kepada sang Pencipta-Nya. Dan ini pasti nantinya akan menjadi viral dan trending.

Hal lain yang ingin saya ungkapkan juga pada momen tahun baru Islam tahun ini, bahwa hakikatnya kita hidup di dunia telah terhubung dengan berbagai tautan umat manusia baik nyata maupun maya. Marilah kita mendoa, mengintropeksi ke dalam hati jauh perjalanan setahun lalu dan menyusun resolusi baru untuk setahun mendatang. Mungkin sejenak kita bisa merenungi sebait lirik lagu dari Ebiet G. Ade yang berjudul “Untuk Kita Renungkan” (klik ya guys)

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tengoklah ke dalam sebelum bicara
singkirkan debu yang masih melekat
Oh... ho... ho... singkirkan debu yang masih melekat



Matahari terbenam, 19 Agustus 2020 / 29 Dzulhijjah 1441 Hijriah

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penilaian Akhir Semester di Tengah Pandemi

Ketika Menghilang Tanpa Kabar