Hari Raya #DiRumahAja



Mawar indah harum mewangi, aromanya menyentuh nurani, tulisan ini sebagai pengganti diri, selamat Hari Raya Idul Fitri. Ini beneran bukan boong.


Tagar #dirumahaja akhir-akhir ini menjadi trending topic di beberapa media sosial. Itu muncul berkenaan semakin massif pandemi Covid-19. Dari berbagai aktifitas kehidupan manusia yang semula berjalan normal kini dialihkan untuk #dirumahaja. Mulai dari kerja dirumah yang diistilahkan WFH (Work From Home) eits tapi jangan diplesetkan jadi Waiting For Him ya. Hayo apa yang kalian tunggu? Uang THR  lebaran ya dari Abak-Amak, Ayah-Bunda kalian ya. By The Way, lebaran Idul Fitri itu akan tiba jua ya. Begitu juga anjuran pemerintah yang dinamakan PSBB karena menjelang hari raya promo semakin gencar. Ada yang memplesetkan PSBB jadi Paket Seru Buat Bersama yang dibubuhi diskon besar-besaran, ada pula Potongan Spesial Berbagi&Beramal. Itu semua dilakukan untuk menarik minat para konsumen sejati mereka.



Lain halnya dengan saya yang acap kali lebaran hampir keluar kota untuk masa sekarang juga mesti #dirumahaja. Yuap, #dirumahaja untuk kebaikan keluarga, Anda dan kita semua. Lebaran yang identik berkunjung dari rumah ke rumah tempat sanak famili, saudara dan tetangga pada tahun ini berbeda. Mungkin tak lagi ada tradisi halal bih halal bersama keluarga besar, kelompok arisan, dan rekan kerja.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, cuti bersama yang cukup panjang aku pakai buat mudik plus travelling around of the java. Kalau ke Bandung bersama Ayangbeb. Mudik ke jakarta bareng anak dan cucu. Lebaran tahun lalu mudiknya ke kota gudeg, Jogjakarta karena libur panjang lanjut ke Semarang. Sepertinya mudik itu akan jadi yang terakhir akibat datangnya wabah pandemi ini.

Mudik tahun ini harus saya relakan #dirumahaja. Tidak ke Bandung, Jakarta, Semarang apalagi ke Jogja. Sebetulnya sih tahun ini rencana ke Jogja buat rayakan  wedding anniversary. Namun harus saya akui sebagai waraga negara yang baik mesti patuhi aturan dan anjuran pemerintah untuk tidak mudik. Meskipun belakangan orang-orang memperdebatkan antara mudik dan pulang kampung. Lagi-lagi bagi saya hari raya #dirumahaja itu lebih baik. 

Plesiran ke Jogja bersama Amak dan Abang

Ada tafsiran #dirumahaja itu bisa dirumah saudara, dirumah tetangga, kan yang penting #dirumahja gak mesti dirumah sendiri. Intinya jika dirumah siapapun entah rumah tetangga, rumah calon mertua terapkan social distancing and physical distancing. Iya kan. Setuju gak kalian?


Mungkin untuk mengobati rindu karena tidak mudik saya akan bercerita masa-masa mudik dulu kala. Mudik ke Pulau Jawa bagi saya sudah menjadi kampung halaman walau saya sendiri kelahiran tanah Minang. Diawali dari pernah kali naik kereta api yang harus berjejal dengan rombongan ratusan manusia bahkan sampai mendobrak gerbong untuk berebut tempat duduk. Bedanya sekarang kalau naik kereta api kelas ekonomi sudah seperti kelas excecutive jaman dulu.

Kereta Api yang tiap kali mudik jadi primadona orang

Sekali dua kali naik kereta api, mudik juga pernah cobain naik kendaraan umum yang lain. Bus yang beroda 6 pernah jadi andalan mudik ke Jogjakarta. Bus lebih mending daripada kereta api yang harus sering berdiri gantungan tangan berjam-jam hingga berebut oksigen. Harga tiket yang terjangkau fasilitas sudah wah di jaman itu. Semakin ke jaman kekinian ini mudik makin mudah. Untuk terhindar dari macet rute jalan diubah dari darat lewat udara. Orang yang dulu nyebut kalau kendaraan itu lewat anak-anak akan manggil "kapal terbang kasih saya uang". Naik kapal terbang selain lebih efektif juga bisa menikmati pemandangan diatas awan layaknya muncak ke gunung. Semua kendaraan pernah dicoba yang akhirnya menghantarkan sampai ke tujuan dengan selamat. Sebab itu jangan lupa untuk membaca doa berkendara ya agar kita semua mendapat perlindungan dari Tuhan yang Maha Esa.

سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَاكُنَّالَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ 

Artinya : "Maha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami (kendaraan) ini. Padahal sebelumnya kami tidak mampu untuk menguasainya, dan hanya kepada-Mu lah kami akan kembali. "

Bus Putra Remaja yang jadi andalan mudik lewat darat yang jaya pada masanya

Kini lebaran ada sesuatu yang beda. Meski ada yang beda tapi kita tak boleh lupa untuk tetap eratkan silaturrahim ya.  Itulah puncak dari hari raya agar jiwa yang kembali fitri tak ternodai lagi. 
Menunda mudik dan pulang kampung untuk saat ini jauh lebih utama meski rindu akan tanah kelahiran tak tertahan. Semoga saja kondisi membaik segera seperti sedia kala. Dimana lebaran biasanya ramai berkumpul tapi hari esok lebaran kudu jaga jarak. Dari saya untuk hari raya tahun ini ingin berucap selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin.  Taqabbalallahu minna wa minkum.



Komentar

  1. Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin bu

    BalasHapus
  2. hehehe gak kerasa minggu lebaran ya , lebaran pali g istimewa yg pernah ada tengkiyu terima kadih ,met hari raya mohon maf lahir dan bathin

    BalasHapus
  3. karena corona, jadi gabisa kerumah ibu buat minta thr😁 tapi minal aidzin wal fiadzin buu, walaupun telat banget hehehe

    BalasHapus
  4. Semangat terus bu walaupun dirumah aja semoga virus covid ini cepat berakhir 🙏

    BalasHapus
  5. Semoga covid-19 cepat berakhir, sehat slalu buat ibu..

    BalasHapus
  6. Minal aidzin walfaidzinn yaa buu maaff Telat ����

    BalasHapus
  7. Maaf lahir batin bu 😁
    Semoga kita selalu diberi kesehatan & perlindungan, dan pandemi ini cepat berakhir

    BalasHapus
  8. Mohon maaf lahir dn batin bu, semoga covid cepet ilang ya buuu😖

    BalasHapus
  9. Mohon maaf lahir dan batin bu, semoga ada hikmahny dibalik pandemi ini

    BalasHapus
  10. Mahon maaf lahir Dan batin bu😊Semoga pandemik ini segera berakhir, stay safe and stay healthy All.

    BalasHapus
  11. Minal Aidzin Walfaidzin bu, Semoga Pandemik ini segera berakhir, Aamiin...

    BalasHapus
  12. Mohon maaf lahir & bathin bu🙏 semoga pandemik ini segera berakhir. Dan kita bisa beraktivitas kembali seperti biasanya🙏

    BalasHapus
  13. Selama hidup merantau aku selalu merayakan lebaran sendirian.
    1-2 hari setelah lebaran baru pulang ke rumah, ketemu orang tua, sanak saudara, ziarah kubur.
    Setelah itu hidup sendiri lagi di kampung orang.
    Jadi pas sekarang ada kebijakan gak boleh mudik aku gak pusing karna emang sudah terbiasa seperti itu haha.
    Moga lebaran tahun besok sudah kembali normal seperti lebaran-lebaran yang yang haru seperti dulu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penilaian Akhir Semester di Tengah Pandemi

Ketika Menghilang Tanpa Kabar